Senin, 20 Maret 2017

falsafah ilmu kesatuan, ayat dan hadis tentang ilmu kesatuan

            Nama   : Meli Silviana
            Kelas   : MPI 2C
            Nim     : 1603036126
            Dosen  :Mukhamad Rikza
            Makul  :Falsafah kesatuan ilmu

A.    Surah Al-A’raaf ayat 101-102 tentang kesatuan ilmu
 تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ (١٠١) وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ (١٠٢

101. negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.
102. dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.
Setelah menceitakan kepada Nabi-nya mengenai kisah kaum Nabi Nuh, Hud,Shalih,Luth dan Syu’aib, serta pembinasaan yang dia di lakukan terhadap orang-orang kafir dan penyelamatan yang dia lakukan terhadap orang-orang yang beriman, Allah menyampaikan alasan kepada mereka bahwa dia telah menjelaskan kebenaran melalui hujjah-hujjah yang di sampaikan oleh lisan para Rasulnya shalawatullah ‘alaihim ajma’in.
Maka allah berfirman: tilkal quraa naqushshu ‘alaika (“ negeri-negeri [ yang kami binasakan itu] kami kisahkan kepadamu.”) min anbaa-iHaa (“ sebagaian dan berita-beritanya”) artinya hai Muhammad, telah kami ceritakan berbagai berita mengenai negeri-negeri tersebut.
Wa laqad jaa-atHum rusuluhum bil bayyinat (“ dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata,”) yaitu hujjah-hujjah atas pembenaran mereka terhadap apa yang telah mereka [para rasul] sampaikan sebagaimana firman allah berikut ini; “ Dan kami tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus orang rasul (QS.Al-Israa’: 15 ).
Dan firmannya: famma kaanu liyu’minuu bimaa kadzdzabuu min qablu (“ maka [mereka] juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannnya,”) huruf Ba disini adalah ba’ sababiyah. Artinya mereka tidak akan beriman terhadap apa yang telah di bawa rasulullah kepada mereka di sebabkan kedustaan mereka terhadap kebenaran yang pertama kali di sampaikan kepada mereka. Demikian di kisahkan oleh ibnu ‘Athiyyah’. Dan ini merupakan pendapat yang baik seperti halnya firman allah : “ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan begitu pula kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada pemulaannya.” (QS.Al-An’aam:109-110).
Oleh karena itu disini allah berfirman: kadzaalika yathma’ullahu ‘alaa quluubil kaafiriina wamaa wajadnaa li aktsarihim (“ Demikianlah allah mengundi mati hati orang-orang kafir.dan kami tidak mendapati kebanyakan mereka.”) yaitu kebanyakan dari umat-umat terdahulu ; min ‘aHdiw wa iw wajadnaa aktsarahum lafaasiqqin (“ yang memenuhi janji. Sesungguhnya kami mendapati kebanyakan dari mereka justru fasik, keluar dari ketaatan,ketundukan serta perjanjian yang telah tabi’at serta fitrahnya di atas itu ketaatan dan ketundukan,”)
Dan allah telah mengambil persaksian mereka, ketika mereka masih berada dalam tulang sulbi. Bahwa allah adalah Rabb dan penguasa mereka dan bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak untuk dahi) selain dia semata. Dan mereka pun telah mengakui dan bersaksi terhadap diri mereka sendiri namun mereka melanggar dan mengabaikannya  
Alam shahih muslim, allah berfirman : “ sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif (lurus). Lalu datang syaitan-syaitan kepada mereka dari agama mereka dan menyimpangkan mereka dari agama mereka, serta mengharamkan bagi mereka apa yang telah aku halalkan bagi mereka.” (HR.muslim).

B.     Tafsir hadis tentang kesatuan ilmu
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
                                                                                                                                          

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduannya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduannya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakan mereka juga tidak beriman”
Dalam ayat di atas telah menjelaskan bahwa ayat agama telah di dukung ilmu pengetahuan sebagai argumentasi rasional yang mampu meyakinkan masyarakat terhadap dogma agama yang ada. Di situ telah menunjukkan bahwa ilmu sebagai penguat dogma yang ada sejak dulu, sains telah memberikan penjelasan yang sedetail mungkin terhadap teks.
Dalam hadis di atas setidaknya dapat kita pahami, bahwa ada integrasi antara ilmu agama dalam hal ini tafsir dan hadis sebagai bagian dari sains atau ilmu pengetahuan, karena tidak mungkin kita memahami agama tanpa ilmu.mencari ilmu dari ayunan sampai liang lahat membuktikan adanya persentuhan antara pemahaman mencari ilmu sebagai sain dan sampai urusan kematian yang konsen dalam ilmu agama, baik dalam tafsir maupun hadis.